Senin, 06 Juli 2009

Openoffice ku sayang

Baru saja aku berantem dengan istriku. Dia punya laptop yang terinstall windows. Sudah beberapa bulan ku rayu tuk ubah ke linux blankon/ubuntu. Wah banyak kendala, nggak ada temen lah, nggak bisa makenya lah, office nya beda. ok..ok.... akhirnya diambil jalan tengah, pake openoffice yang jalan di windows. Tujuannya biar dia biasa dulu sama aplikasi itu... Alhasilll..........

Wakkkkkkkk

Aku diprotes berat, setiap kali dia sudah kerja pake openoffice kalau dibuka di microsoft office 2003 katanya layout berubah. Setahu ku emang pernah begitu. Wah ini persoalan berat, aku coba membicarakan baik-baik (kaya pasangan yang saling memberi pengertian), tapi? Hehehe, tetep aja dia bilang nggak mau beradaptasi karena nggak punya waktu tuk mengerjakan hal itu..

Wakkkkk..

Aku usulkan komputernya dikantor diinstall openoffice aja, biar masalah kompatibilitas layout bisa diatasi. Dia bilang, nggak ada waktu untuk memperhatikan semua orang seperti itu. Waduk koq mesti semua orang.... Dia bilang dia sering sharing dokumen ke orang lain dan selalu berubah formatnya. Wah Repot nih.. Akhirnya dia minta aku harus menginstall Microsoft office 2003, bukan 2007 yang ada sekarang. Dia juga bingung dengan yang 2007. Wah......masalah lagi nih.

Aku nggak pernah nyimpen software itu lagi, Microsoft office 2003 dah ku delete dari dulu kala. Sejak ada yang 2007 aku nggak mau nyimpen lagi software itu, apalagi sejak hijrah ke linux 1 tahun yang lalu, nggak ada software yang ku maintain lagi untuk versi windowsnya. (Kecuali game yang lucu2x, Sori)

Ini lah susahnya jadi pejuang cinta, mengarahkan ke arah yang difitrahkan oleh Tuhan, memang susah. Menggunakan sesuatu dengan sebagai mana mestinya memang tidak seindah diceritakan orang, walaupun aku bukan orang yang terlalu idealist, tapi memang susah kalau dalam dunia pergaulan tuk idealis. Bahkan untuk sahabat terdekat saja sungguh sulit tuk mengajak mereka menggunakan sesuatu yang lebih baik. Perubahan begitu menyakitkan kah?

Kesimpulan ku, bahkan orang yang kucintai dan akan menjadi teman hidup, bukanlah orang yang sangat mudah untuk diajak ke dua open source. Bahkan teman dekat sedekat apapun tidak akan mau melakukan perubahan kalau mereka harus mengeluarkan energi yang lebih untuk beradaptasi lagi. Langkah masih panjang untuk mengajarkan mereka ke dunia yang lebih baik. Aku harus cari solusinya satu persatu. Bahkan lebih mudah mengajarkan anak buah di kantor, 30 orang menggunakan openoffice secara sukarela (paksa sebenarnya).

Tunggu saja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar